Duh! Benar-benar deh! Gara-gara ikut
acara uji nyali di salah satu stasiun televisi nasional, sekarang aku
malah sering mengalami hal-hal aneh yang sulit aku jelaskan. Aku
sendiri tidak mengerti kenapa ini terjadi padaku. Padahal waktu itu aku
hanya iseng saja ikutan uji nyali.
Dan, kalau dipikir-pikir,
ini juga salah Tono. Shoot! Karena, kalau bukan karena tertantang
omongan Don Juan kutukupret itu, aku nggak bakalan terlibat
superstitious macam begini.
Aku tidak percaya dengan yang
namanya setan atau hantu atau apalah. Oke, aku percaya Tuhan ada. Aku
juga percaya malaikat ada. Tapi setan atau hantu? Itu hanya usaha pihak
tertentu yang ingin mendulang keuntungan dari cerita-cerita seram macam
begitu. Aku kan hanya mahasiswa biasa yang berkutat dengan science. Not
fiction.
"Kay, kamu kan nggak percaya sama yang namanya setan.
Kalo gitu nggak takut dong ikutan uji nyali?" kata Tono. Saat itu kami
sama-sama sedang menyaksikan host acara, Rahi Tjapan, berkeliling dan
bertanya siapa berani ikut uji nyali di suatu tempat misterius yang
terkenal angker di kota ini. Tadinya, aku menggeleng.
"Malas ah," jawabku enggan.
"Ah
payah kamu! Bilang aja takut sama setan, makanya kamu pura-pura nggak
percaya," Tono mencibir. Kutukupret juga ni anak, makiku dalam hati.
"Dicky chicken! Dicky chicken!" sahabatku nan botak ini makin terlihat
jelek dengan lidah terjulur keluar, lubang hidung dilebarkan, dan mata
melotot. "Heh, jelek tau!" ledekku. Tapi Tono tetap tegar mengejekku.
Akhirnya
aku terpancing juga. Aku segera mendekati Rahi Tjapan dan mengangkat
tangan, menawarkan diri untuk menjadi peserta uji nyali. Dari sudut
mataku, terlihat Tono menatap kami dengan serius. Yah, setidaknya aku
bisa membungkam mulut monyong Tono yang terus mengejekku itu. Lagipula,
dari tiga peserta hanya satu yang dipilih untuk satu sesi.
Kemungkinannya 1 banding 3 kan? Hanya 33,33 persen. Santailah.
"Selamat,
anda terpilih menjadi peserta dalam uji nyali pertama," kata Rahi
Tjapan setengah jam kemudian. Tono, yang berdiri lima meter di belakang
kamera, bersorak sambil terpingkal-pingkal tanpa suara. Sial! Tapi, so
what gituloh! Toh aku tidak percaya pada setan. Apalagi arwah. Insan
yang sudah meninggal, ya terbang ke langit. Tidak di dunia lagi.
Aku
ingat dibawa ke suatu tempat dengan mata ditutup. Lalu diinstruksikan
berbagai macam hal. Seorang paranormal berusia paruh baya menyarankan
agar aku tidak takut. Dia berjanji akan terus mem-back up-ku. Apa pula
itu maksudnya? Aku hanya tersenyum simpul ketika kamera utama dimatikan
dan kamera infra merah diaktifkan. Sekian jam berlalu, rasanya tidak
ada suara aneh apalagi penampakan seperti yang dikatakan.
Ketika
uji nyali selesai dan ditanya apa kesan-kesanku. Aku katakan, biasa
saja. Sang paranormal menatapku dengan mata melotot, begitu juga Rahi
Tjapan. Dia terlihat sangat kaget. Menurutnya, kamera infra merah
sempat menangkap sesosok bayangan berpijar hijau selama sekian puluh
detik yang berdiri tidak jauh di belakangku!
Aku hanya nyengir
kuda. Sumpah! Aku tidak merasakan apa-apa. Well, mungkin sempat sedikit
menggigil karena tiba-tiba udara di sekitarku sepertinya ngedrop sampai
ke sub zero. Tapi aku yakin, itu hanya perasaanku saja. Lagian, memang
di daerah ini udaranya dingin. Yang lebih penting, aku dinyatakan lulus
uji nyali dan mendapat hadiah satu setengah juta perak man! Tono hanya
meringis waktu kubilang, aku tidak akan mentraktirnya. Ha ha! Don’t
worry Ton, aku hanya bercanda!
Tono hampir pingsan melihat
tayangan acara uji nyali itu. Matanya melotot memandangi televisi.
Sedangkan aku? Cool saja. Aku yakin, seyakin-yakinnya, itu hanya trik
kamera. Bagus juga triknya. Bayangan pijar hijau dengan sosok wanita
berambut panjang, berkulit pias. Berdiri di belakangku hampir semenit,
dan tampak melayang mendekatiku sebelum akhirnya menghilang.
"Waaaaaa!"
Tono berteriak sambil menutup kepalanya dengan bantal. Saat itulah aku
melihat pijar hijau keluar dari televisi. Apakah itu efek elektris? Aku
tidak tahu. Tapi, pijar itu melebar seperti selembar kain kerudung
ibuku. Aku terus menatap pijar hijau itu.
Aku agak terkejut
melihat sesuatu terbentuk di tengah "benda" tersebut, letaknya agak ke
atas, seperti mata! Kemudian di bagian bawahnya, seperti bentuk lengan
kurus pucat. "Benda" itu berhenti sebentar di punggung Tono. Awas
belakangmu, Ton! Aku mencoba mengibaskan tangan di "benda" tersebut,
tapi dia menghilang. Aku menelan ludah. Takut? Bukan. Bingung? Ya.
Bagaimana caranya mengatakan hal ini kepada Tono? Sobatku nan botak itu
penakutnya setengah mati. Tapi kalau meledek, gilanya setengah hidup.
Aku
juga tidak bisa menjelaskan kepada pacarku, Shinta, kenapa akhir-akhir
ini aku tidak bisa mencium keningnya. Bagaimana caranya aku
menjelaskan? "Nta, maaf, aku lagi nggak bisa cium kamu. Soalnya setiap
mau cium kamu, tiba-tiba ada mata melotot di jidatmu yang seksi itu,"
begitu? Bisa-bisa aku diputusin! Nggak deh. Aku nggak mau disebut freak
alias orang aneh! Apalagi mengingat perjuanganku mendapatkan Shinta, si
kembang kampus.
"Kay, kenapa sih? Kok nggak mau cium Cinta?"
rengeknya manja. Wah, alamat merajuk lagi nih. "Maaf, Cinta. Kay lagi
puasa, jadi nggak bisa cium Cinta dulu. Gapapa ya?" OUCH! Apa nggak ada
alasan lain ya? Selalu alasan itu yang kupakai. "Hmm.. Cinta senang deh
punya pacar yang rajin ibadah," kata Shinta sambil menerawang. Aku
nyengir sambil garuk-garuk kepala. Untunglah, pacarku nan cantik ini
memang bodoh. Eh, polos!
Menjelang malam minggu, aku membaca
koran. Shinta mengajakku nonton film horror. Hmm, film The Ring 2 ini
baru tayang. Coba kubaca sinopsisnya. Kelihatannya seru juga. Kugelar
koran itu di lantai. Posisiku tertelungkup sambil kedua tanganku
menopang tubuh. Karena sinopsisnya terletak paling atas, aku terpaksa
menindih koran bagian bawahnya.
Lagipula, hiiiy, ngeri juga
ada gambar Samara (si hantu film itu) seakan sedang menaiki sumur.
Matanya melotot ke arah pembaca. Sial! Aku kok jadi merinding? Belum
selesai aku membaca sinopsis, tiba-tiba mataku menangkap pijar hijau
lagi, dari bawah lenganku! Aku terlonjak. Gambar Samara (Sadako versi
Hollywood) yang tercetak hitam putih itu kok menghijau?
Lama-lama
berubah jadi seperti lendir hijau. Lebih kaget lagi, gambar Samara itu
menghidup. Rambutnya yang panjang mulai bergerak. Begitu pula
kepalanya. Tangannya yang menggapai juga bergerak. Mencakar. Menggaruk.
Wajahnya yang menyeringai makin menyeringai!
Mendadak tahu
gambar itu melejit keluar dengan cepat, berpijar hijau. Suara di
sekitarku bergemuruh seperti angin ribut. Pijar hijau bersosok Samara
itu melayang cepat, menimbulkan suara nyaring seperti suara burung
elang tercekik.
Seluruh benda di kamar asramaku mulai bergerak.
Tape-ku yang rusak itu tiba-tiba bisa mengeluarkan suara radio.
Anehnya, dalam hati aku berpikir, kalau ini memang hantu, pintar juga
ya dia membetulkan radio rusak! Mungkin dia jenis hantu mekanik?
Aku
merubah posisiku menjadi duduk. Aku hanya menyaksikan isi kamarku
melayang dan berputar-putar. Bukannya takut, aku malah jengkel. "Hei!
Berantakan dong kamarku! Nanti tolong diberesken lagi!" teriakku
diplomatis. Putaran laksana puting beliung itu menghebat. Aku sampai
harus menutupi rambutku yang kribo ini, agar tidak rusak.
Kemudian
dia berputar mengelilingiku. Menyeringai. Ngeri juga. Aku tidak tahu
lagi harus bagaimana. Bahkan, ketika tubuhku tersedot ke dalam koran
itu, aku tidak bisa bergerak lagi. Teriak pun tidak bisa. Pandanganku
menghitam. Begitu kubuka mataku, aku terkejut. Semuanya kembali normal.
Tidak ada yang aneh. Hanya ada satu suara. Wanita. "Kamu menyebalkan.
Tidak bisa ditakut-takuti! Selamat tinggal," katanya. Suara tersebut
bergema, menjauh.